
Nata berjalan sendiri ke pojok sekolah. Ia sedang tidak mau bermain.

Di taman pojok sekolah, Nata lihat hewan misterius. Merangkak di antara rumput.
“Ck ck ck,” Nata panggil hewan itu. Tapi hewan itu cuma tengok kanan dan kiri.

“Hei!” Nata panggil lagi. Sekarang hewan itu menoleh. Mereka saling menatap.

Nata bayangkan tubuhnya mengecil. Jadi sama seperti hewan itu.
Mereka berkenalan. Katanya, hewan itu Kadal Hijau dan sedang tersesat.

“Apa kau lihat teman-temanku?” tanya Kadal Hijau. “Kami lagi cari Dokter Loreng, tapi aku terpisah sendiri.”
“Ikut aku keliling dunia, siapa tahu ketemu,” jawab Nata.

Mereka lewati Padang Badai Bola. Banyak raksasa sedang bermain. “Hati-hati!”
“Teman-temanku tidak ada di sini,” kata Kadal Hijau. “Bawa aku ke tempat lain.”

“Di sini juga cuma ada raksasa! Tidak ada teman-temanku!”

Mereka sampai di tempat yang seram. “Ini Pemakaman Buku,” kata Nata.
“Semoga teman-temanku tidak ditangkap Hantu Buku,” kata Kadal Hijau.

“Banyak akar hitam di sini,” kata Nata. Kini mereka di Tanah Tombol dan Tetikus.
“Teman-temanku masih belum terlihat!” Kadal Hijau mulai cemas.
Nata dan Kadal hijau hampir putus asa. Tapi saat mereka sampai di Kebun Pengetahuan …

“Kadal Hijauuu!”
Itu teman-teman Kadal Hijau … dan Dokter Loreng. Akhirnya, ketemu juga yang dicari.

Kadal Hijau siap menghampiri teman-temannya. Tapi sebelumnya …
… ia pegang tangan Nata. “Temanku, ikut aku ke hutan ajaib …”
Teng teng teng! Nata belum sempat menjawab, bel sekolah berbunyi.

Nata tersadar dari lamunannya. Ia segera lari masuk kelas, tanpa pamitan.

Nata ikut pelajaran lagi. “Huh, padahal masih mau ngebayangin Hutan Ajaib!”. [*]


