
Di daerah Lulu tinggal, semua orang punya awan di atas kepala. Termasuk Lulu dan teman-temannya di sekolah.
Hari ini, ada kelas merangkai bunga. Bunga yang Lulu rangkai sangat indah. Ia senang, awan di atas kepalanya jadi cerah.
Nimo dan Kiko juga sudah selesai merangkai bunga. Tapi mereka tidak bisa diam, berlarian terus di kelas.
Sampai tiba-tiba … Nimo menabrak Lulu!
Bunga Lulu terjatuh, lalu diinjak Kiko yang sedang mengejar Nimo. Jadi rusak dan layu.
Grrr! Grrr! Grrr! Awan di atas kepala Lulu jadi penuh geluduk. Ia sedih, kesal, marah!
Suara geluduk itu terus ada sampai Lulu berjalan pulang.
Di depan pintu rumah, Lulu ragu buat masuk. Ia cuma menatap bunganya yang rusak dan layu.
Tiba-tiba pintu terbuka. Hah! Lulu kaget dan menjatuhkan bunganya. Awan di atas kepalanya jadi jingga.
Mama mengambil bunga yang terjatuh di lantai. Lalu tersenyum dan mengelus lembut kepala Lulu.
Awan di atas kepala Lulu jadi mendung. Pelan-pelan turun hujan, yang semakin lama semakin deras.
Mama memeluk Lulu yang menangis. Mama memegang pundak Lulu. “Marah bikin lapar. Kita makan dulu, yuk!”
Mama mengambil daun selada, lalu menaruhnya di dalam wadah berisi air. Setelah beberapa saat, daun selada itu menjadi segar.
Aha! Awan di atas kepala Lulu jadi cerah seketika. Ia mengambil gelas berisi air, lalu memasukkan bunganya ke sana.
Keesokan paginya, Lulu langsung mengecek bunganya. Bunga Lulu segar kembali!
Cepat-cepat ia rangkai lagi bunga tersebut, lalu berangkat ke sekolah. Awan di atas kepalanya sangat cerah.
Di sekolah, Nimo dan Kiko menunggu Lulu dengan awan yang mendung. “Maaf, ya, kami menyesal,” kata mereka.
Lulu tersenyum dan menunjukkan bunganya yang sudah membaik. Wah! Awan mereka jadi cerah juga … seperti awan Lulu. [*]


