
NALA MELIHAT anak-anak lain bermain layang-layang.
Layang-layang mereka terbang tinggi. Semuanya terlihat senang sekali.
Nala ingin ikut bermain. Namun, ia tidak punya layang-layang.

Nala pun pulang dengan langkah pelan. Ia merasa sedikit sedih.

Di rumah, Bapak menghibur Nala. Ia beri buku “Festival Layang-Layang”.
Nala membacanya dengan semangat. Halaman demi halaman.
Sampai di halaman terakhir, ada cara membuat layang-layang.
Nala membacanya pelan-pelan. “Aku mau coba buat sendiri ah,” pikirnya.

Nala berlari ke gudang. Ambil batang bambu kecil milik Bapak.

Ambil juga kertas putih, lem, gunting, dan tali. Lalu mulai duduk di teras.

Nala ikuti langkah-langkah di buku. Potong kertas dengan hati-hati.

Potong bambu beberapa bagian. Haluskan, lalu rangkai dengan tali.
Potongan kertas dan rangkaian bambu ditempel dengan lem.

Setelah selesai, Nala mengangkat hasilnya. Tidak sama seperti di buku.
“Bisa terbang gak, ya?” kata Nala pelan. Ia mengernyit, tidak yakin.
Nala hampir menyerah. Namun, ia teringat serunya bermain layang-layang.
Ia mencoba lagi dan merapikan layang-layangnya. Akhirnya …

… layang-layang Nala pun selesai. Tinggal diwarnai dengan krayon.

Nala dan Bapak ke lapangan. Layang-layang Nala berhasil terbang.
Bentuk layang-layang Nala sederhana. Namun, itu buatannya sendiri.

Nala tersenyum lebar. Ia merasa bangga. [*]


