
Putih, si kelinci, membeli biji wortel di toko Pak Lemu. Ia ingin mulai menanam wortel sendiri … dan memasaknya.
“Halo, Pak Lemu! Kacamatamu keren!” sapa Putih saat masuk ke toko.
“Hohoho, terima kasih, Putih,” Pak Lemu tertawa, perut buncitnya bergetar. “Semoga aku tidak salah memberimu biji, ya.”
Pak Lemu menyiapkan belanjaan Putih. Setelah mengobrol sebentar, Putih membayar dan langsung pulang. Dia ingin segera menanam biji-biji wortelnya di kebun belakang rumah.

“Tumbuhlah, aku akan menunggu,” bisiknya saat mulai menanam.
Setiap pagi, Putih selalu datang ke kebun, menyiram tanah yang masih rata. Kadang menunduk, kadang jongkok. “Belum juga ya …,” gumam Putih sesekali.

Satu minggu kemudian, tunas kecil muncul dari tanah. Putih tersenyum lebar, dia makin rajin merawat. Dia juga selalu memastikan tunas itu mendapat sinar matahari yang cukup.

Dua minggu kemudian, daun kecil mulai terlihat. Lebar dan menjalar. Putih menatap daun itu, kepalanya miring sedikit. “Kok tidak seperti daun wortel, ya?” pikirnya.

Tapi dia terus merawat tanaman itu dengan sabar setiap hari. “Nanti aku mau buat cupcake wortel,” gumamnya sambil memberi pupuk.

Suatu pagi, Putih kembali ke kebun. Di tempat dia menanam biji wortel, tumbuh labu kuning. Putih berharap ada wortel, tapi tidak ada.
“Astaga, Pak Lemu salah memberiku biji!” serunya.

Putih terdiam lama, wajahnya lesu. “Aku sudah merawat dan menunggunya setiap hari,” ujarnya pelan. “Tapi ternyata … bukan wortel,” Putih menangis.
Lama menangis, Putih jadi ingat sesuatu. Waktu itu, saat menuju toko Pak Lemu, dia bertemu Tupi si tupai. Dia baru saja membeli biji di toko Pak Lemu.
“Apa biji wortelku tertukar sama biji labu kesukaan Tupi, ya?” pikirnya.

Putih memetik labu-labu dari kebunnya, memasukkannya ke dalam gerobak kecil. Kretek … kretek … Putih terburu-buru menuju rumah Tupi.
Saat sampai, Putih melihat Tupi sedang sibuk di kebun depan rumahnya. “Hanya ada labu,” bisik Putih.

Putih menarik napas panjang. “Yaaah, ternyata biji kita tidak tertukar,” gumamnya pelan. Akhirnya dia pulang dengan langkah yang berat. Kretek … kretek …

Sampai di rumah, Putih menaruh labu-labunya itu di atas meja. “Ini hasil kerja kerasku, tidak boleh dibuang,” gumamnya.
Dia mengupas labu satu per satu. Tangannya bergerak hati-hati. Labu dipotong, dimasukkan ke panci, diberi air dan sedikit susu. Tidak lama kemudian, uap hangat pun keluar dari panci.

Putih terus mengaduk pelan hingga labunya berubah jadi bubur lembut. Dia mencicipi sedikit. Rasanya tidak semanis cupcake wortel kesukaannya.
Putih diam sebentar dan bilang: “Tidak apa-apa, aku sudah berusaha”. [*]


